Tampilkan postingan dengan label Osteoporosis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Osteoporosis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Oktober 2008

Satu dari Tiga Perempuan Alami Patah Tulang

SETIAP hari massa tulang berkurang. Kepadatan tulang mencapai puncaknya pada sekitar usia 30 tahun. Saat itulah kita harus berjaga-jaga agar tidak terkena pengeroposan tulang (osteoporosis) yang banyak diderita orangtua.
”Tulang yang rawan mengalami pengeroposan adalah tulang pergelangan tangan, tulang panggul dan tulang punggung bagian bawah belakang,” kata dr Tanya TM Rotikan, pakar tulang saat diskusi tentang manfaat nano kalsium di Jakarta, Kamis (24/1).

Setidaknya secara keseluruhan terdapat 206 tulang dalam tubuh kita. Massa tulang akan mencapai puncaknya pada sekitar usia 30 tahun, yaitu ketika proses penghancuran tulang (yang dilakukan oleh sel osteoclas) mulai terjadi lebih cepat dari proses pembentukan tulang (yang dilakukan oleh sel osteoblas).

Setelah bertahun-tahun tulang kita menjadi lebih tipis dan rapuh. Ini berarti terjadi pengurangan kepadatan dan massa tulang secara bertahap. Jika tidak diketahui, kondisi ini dapat mengakibatkan osteoporosis.

”Jika terjadi osteoporosis maka gambar arsitek tulang bolong-bolong karena massanya berkurang. Karena itu para orang tua yang terkena osteoporosis tinggi badannya berkurang atau bongkok,” kata dokter spesialis orthopaedi dr H Briliantono M Soenarwo SpOT.

Tulang terdiri dari dua lapisan: lapisan luar yang kuat (tulang cortical) dan lapisan dalam yang lebih lemah/seperti spon (tulang trabecular). Tulang trabecular merupakan arsitektur tulang, jaringan rumit dan elastis yang mempunyai kemampuan tensi dan kompresi untuk menahan dan menyalurkan beban tulang. Tulang cortical lebih kompak dan padat memberi kekuatan bagian luar, sementara tulang trabecular memberi sokongan dan membantu tulang mempertahankan bentuknya.

Banyak orang berpikir bahwa tulang mereka tidak berubah dan permanen. Sebenarnya tulang kita merupakan jaringan hidup yang secara berkala (konstan) mengalami pembongkaran dan beregenerasi. Hal tersebut disebut remodelling tulang. Faktanya tulang rangka kita mengalami regenerasi total setiap tujuh-10 tahun. Jadi usia tulang kita lebih muda dari usia kita.
Fakta dunia saat ini satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria yang berusia di atas 50 tahun akan menderita patah tulang akibat osteoporosis. Pada tahun 2050, satu dari dua patah tulang pinggang yang disebabkan oleh osteoporosis di dunia diperkirakan terjadi di Asia. Sedangkan di Indonesia, data dari Puslitbang Gizi Depkes menyebutkan, dua dari lima orang Indonesia berisiko terkena osteoporosis.

Karena itu untuk mencegah osteoporosis, menurut dr Tanya TM Rotikan, kita perlu berolahraga atau latihan fisik secara baik, benar, teratur dan terukur paling tidak 30 menit tiga kali seminggu. Misalnya dengan berjalan kaki 10.000 langkah per hari setara dengan berjalan kaki selama 60 menit.

Juga mengatur pola makan atau diet seimbang. Asupan kalsium pun harus tercukupi. Keperluan kalsium untuk orang dewasa per hari sebesar 1.000 mg. Kalsium tersebut dapat diperoleh dari susu. Selain dari susu, kalsium juga terdapat pada sayuran hijau seperti brokoli dan buncis, pada buah-buahan: jeruk, pisang, pepaya, kiwi, dan alpukat, juga ikan-ikanan seperti teri.

Hidangan Sehat di Masa Menopause

Menopause membuat wanita berisiko terkena osteoporosis dan penyakit jantung. Berbagai keluhan seperti depresi atau hot flashes kerap menyertai datangnya menopause. Untuk mengatasinya, dianjurkan mengasup makanan kaya kalsium seperti ikan dan susu, juga produk kedelai, seperti tahu dan tempe.
Menopause adalah bagian alami dari kehidupan seorang wanita. Hormon seks, khususnya estrogen, yang dikeluarkan indung telur berkurang secara drastis. Hal ini umumnya terjadi di usia 45 - 60 tahun. Namun, beberapa wanita sudah memasuki masa menopause di usia lebih muda. Saat kadar hormon estrogen menurun, menstruasi pun berhenti.Tanda-tanda menopause sangat bervariasi.
Beberapa wanita merasa tidak nyaman atau gelisah, tetapi ada juga yang tidak mengalaminya. Gejala yang tipikal adalah hot flashes, depresi, gelisah, dan mood tidak stabil. Ada pula yang sering buang air kecil serta mengalami masalah vagina seperti radang dan kekeringan vagina. Beberapa wanita mengalami perubahan kulit dan rambut.Untuk mencegah konsekuensi dari rendahnya kadar estrogen, selama masa transisi, sebaiknya ubah pola hidup, termasuk pola makan. Konsumsilah zat gizi yang dapat mengurangi gejala menopause serta mencegah masalah yang dapat timbul setelah menopause, seperti osteoporosis.
Salah satu makanan yang sangat dianjurkan adalah produk kedelai. Olahraga dapat mengurangi risiko menopause karena menimbulkan efek positif, yaitu menghindarkan dari penyakit jantung serta paru-paru.
Latihan aerobik ringan seperti jalan kaki, bersepeda, dan berenang bisa jadi pilihan. Lakukan olahraga ini sedikitnya 30 menit per hari. Olahraga yang menggerakkan seluruh badan disertai asupan makanan untuk menambah sumber kalsium akan mempertahankan tulang tetap kuat serta mengurangi kehilangan kalsium dalam tulang.
Olahraga teratur juga dapat mencegah kenaikan berat badan.Kekurangan hormon estrogen setelah menopause membuat wanita lebih berisiko untuk terkena osteoporosis (keropos tulang). Sebelum menopause, wanita memiliki risiko rendah terhadap penyakit jantung dibanding pria karena estrogen membantu menurunkan LDL (kolesterol jahat) dan meningkatkan HDL (kolesterol baik).
Setelah menopause, wanita mempunyai risiko penyakit jantung sama dengan pria.Zat gizi yang dapat membantu mengurangi keluhan menopause:* Asam lemak omega 3, asam folat, dan vitamin D untuk mengikis keluhan depresi. Sumber: ikan berlemak, whole grain, sayuran berdaun hijau, jus jeruk, dan produk susu.* Zat besi untuk mengurangi keluhan menstruasi berat.Sumber: daging merah, kacang-kacangan, bayam, kismis, sereal.* Kalsium untuk mengurangi keluhan hot flashes.Sumber: susu rendah lemak dan produk olahannya, sayuran berdaun hijau, ikan kaleng, ikan teri. * Vitamin D dan kalsium untuk mengurangi keluhan osteoporosis.Sumber: ikan berlemak, tuna, salmon, sardin, dan lain-lain, susu rendah lemak dan hasil olahannya, sayuran berdaun hijau, ikan kaleng.

Obat Kanker Berpotensi Atasi Osteoporosis

WASHINGTON, JUMAT - Obat yang digunakan untuk mengobati kanker tulang sumsum ternyata juga dapat membantu mengatasi penyakit keropos tulang atau osteoporosis, demikian hasil penelitian para ahli di Amerika Serikat belum lama ini.


Peneliti dari Massachusetts General Hospital dan Harvard Stem Cell Institute, Jumat (25/1), mengungkapkan bahwa Velcade, yang biasa digunakan untuk mengobati multiple myeloma (kanker tulang ), dapat mengaktifkan sel-sel stem (batang) yang kemudian berubah menjadi tulang. Dalam sebuah ujicoba pada tikus terlihat bahwa Velcade tampaknya membantu pengaktifan jaringan tulang dan berpotensi menjadi teknik pengobatan bagi penyembuhan osteoporosis. Penelitian tentang potensi Velcade ini dipublikasikan dalam Journal of Clinical Investigation.

Ahli sel stem dari Harvard, Dr. David Scadden, mengatakan para ilmuwan kini tengah berupaya menemukan cara untuk menggunakan obat ini guna merangsang sel stem yang merupakan sel induk atau sel tunjang yang membentuk pelbagai jenis sel dalam tubuh manusia.
"Terapi sel stem seringkali dianggap sebagai tindakan memasukkan sel baru ke dalam tubuh, tapi studi ini menunjukkan bahwa pengobatan dapat mengaktifkan sel-sel stem yang terdapat pada jaringan dan bertindak sebagai pengobatan regeneratif dalam meningkatkan mekanisme perbaikan tubuh," ungkap Scadden.

"Obat yang mengarahkan sel-sel yang belum matang untuk menjadi sejenis sel khusus, seperti dalam riset ini, memiliki potensi mendatangkan manfaat," tambahnya.
Velcade, yang secara generik dikenal sebagai "bortezamib", merangsang sel-sel stem "mesenchymal", demikian temuan para peneliti tersebut. Sel-sel itu berkembang menjadi zat pembangun-tulang "osteoblast" dan beberapa jenis sel lain termasuk sel tulang rawan, lemak, kulit dan otot.

Ujicoba pada tikus memperlihatkan obat tersebut meningkatkan kegiatan osteoblast, dan ketika digunakan pada tikus penderita osteoporosis, obat itu secara mencolok meningkatkan kepadatan dan susunan tulang.

"Jika paradigma yang tampak dalam studi ini terbukti benar bagi jaringan lainnya, kita mungkin memiliki pilihan untuk memperbaiki dan mengaktifkan kembali berbagai tempat yang terpengaruh oleh cedera atau penyakit dengan pengobatan ini," kata Scadden.

Kepadatan Tulang Bisa Deteksi Kanker



KEPADATAN atau densitas mineral tulang biasanya dikenal sebagai salah satu parameter penting dalam menentukan risiko penyakit osteoporosis. Namun berdasarkan riset terbaru, kepadatan mineral tulang - khusunya pada wanita - ternyata juga dapat digunakan untuk membantu para dokter untuk mengetahui secara lebih akurat risiko mengidap kanker payudara.

Seperti dilaporkan dalam jurnal Cancer edisi Juli, para ahli di Arizona AS menemukan suatu hubungan kuat antara densitas mineral tulang atau BMD dengan kanker payudara pada wanita telah memasuki masa menopausal.
Hubungan ini bersifat independen dan terbebas dari sejumlah faktor risiko lain yang biasa dijadikan indikator dalam meramalkan kanker payudara atau juga disebut model risiko Gail. Faktor-faktor risiko itu di antaranya, sejarah kanker dalam keluarga, sejarah reproduksi, usia, ras/etnis, serta sejarah biopsi dan temuan atipikal dalam payudara.





Menurut para ahi, hasil riset ini mengindikasikan bahwa dengan cara menggabungkan BMD dengan pemeriksaan standar seperti model Gail, para dokter tentunya dapat memperbaiki kemampuannya memprediksi risiko kanker payudara pada wanita lanjut usia Beberapa riset sebelumnya memang telah menunjukkan adanya hubungan antara tingginya BMD dengan kenaikan risiko kanker payudara.





Tingginya BMD pada tulang pinggul dapat menjadi pertanda besarnya paparan terhadap hormon estrogen. Padahal kebanyakan (tapi tidak semua) sel-sel kanker payudara sangat sensitif terhadap estrogen. Jika kadar BMD pada tubuh seorang wanita merosot drastis atau terlalu rendah, tentu juga akan berimpilikasi buruk pada kesehatannya -- yakni rentan terhadap osteoporosis dan patah tulang.Untuk memastikannya, Dr. Zhao Chen dari Universitas Arizona di Tucson melakukan penelitian dengan cara menguji faktor risiko kanker payudara 9.941 wanita lanjut usia yang mengikuti suvey Women's Health Initiative. Partisipan terus dipantau perkembangannya dalam selang waktu sekitar 8,5 tahun dan peneliti mencatat 327 wanita mengidap kanker payudara.Pada awal penelitian, BMD tulang pinggul dan jumlah skor model Gail dari para partisipan diukur. Seperti yang diduga, wanita yang skor model Gail-nya tinggi di awal penelitian tercatat memiliki 35 persen peningkatan risiko mengidap kanker payudara dibandingkan wanita yang skor model Gail-nya rendah.





Namun peneliti juga menemukan adanya peningkatan 25 persen risiko kanker payudara pada setiap kenaikan BMD tulang pinggul.Meskipun BMD tulang pinggul dan skor model Gail tidak saling berkaitan satu sama lain, wanita yang mencatat skor tertinggi pada dua jenis pemeriksaan tersebut tercatat memiliki risiko lebih tinggi mengidap kanker payudara. “Untuk ke depan, penelitian seharusnya menyelidiki apakah penggabungan BMD, skor Gail dan faktor risiko lainnya seperti kepadatan payudara, dapat menyempurnakan identifikasi wanita yang berisiko tinggi kanker payudara,” ungkap Chen.

Aspirin Berpotensi Obati Osteoporosis

SIAPA tidak mengenal aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal). Obat yang satu ini sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan sering digunakan sebagai analgesik (obat mengatasi rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (obat demam), dan anti-inflamasi atau peradangan.

Selain berkhasiat mengobati beragam gejala dan penyakit, manfaat aspirin juga terus berkembang seiring dengan gencarnya penelitian para ahli. Riset terbaru terhadap binatang, misalnya, mengungkap potensi aspirin untuk mengobati penyakit keropos tulang atau osteoporosis.

Dalam penelitian yang dipublikasikan jurnal PLoS One, peneliti dari Amerika Serikat mengindikasikan bahwa dosis rendah aspirin dapat menurunkan aktivitas sel-sel yang menggerogoti tulang. Di lain pihak, aspirin juga mampu meningkatkan aktivitas sel-sel yang membangun kepadatan tulang.Oleh para ahli, meningkatnya aktivitas sel-sel yang merusak kepadatan tulang secara tipikal memang disebut sebagai penyebab osteoporosis.

Namun, menurut Dr Songtao Shi dari University of Southern California School of Dentistry, Los Angeles, bukti terbaru telah mengindikasikan bahwa penurunan jumlah sel-sel yang membentuk tulang juga berperan bagi terjadinya penyakit keropos tulang.

Dalam penelitiannya, tim yang dipimpin Dr Songtao Shi berhasil membuktikan bahwa aspirin dapat menurunkan tingkat kerusakan sel-sel yang membentuk tulang pada tikus. Mereka juga dapat menunjukkan lebih jauh bahwa dengan menambahkan aspirin dalam dosis rendah, sel-sel pembentuk tulang menjadi lebih aktif, sedangkan sel-sel yang merusak tulang justru menjadi kurang aktif.

Dengan penambahan aspirin, tulang-tulang tikus ini menjadi lebih kuat dan lebih padat.“Aspirin mungkin dapat menawarkan sebuah pendekatan baru dalam mengobati osteoporosis yang banyak dialami para wanita setelah memasuki masa menopause," kata peneliti seperti dikutip Reutershealth, Kamis (31/7) .Walaupun beberapa riset pada manusia telah mengindikasikan bahwa penggunaan aspirin secara teratur memberikan faedah yang cukup pada pemadatan tulang para wanita menopause, Shi menekankan pentingnya penelitian lanjutan untuk mengungkap lebih detail dan mengklarifikasi mekanisme aspirin dalam mencegah dan mengobati osteoporosis.